
Sulawesi Tengah adalah sebuah provinsi di Indonesia yang beribukotakan Palu.
TARIAN DAERAH
1.Tari Dero Poso Sulawesi Tengah
2.Tari Dero Poso Sulawesi Tengah
3.Tari Pule Cinde
4.Tari Lumense
ADAT ISTIADAT
Sulawesi Tengah, dihuni oleh berbagai suku, termasuk suku Kaili, Kulawi, Lore, Pamona, Mori, Bungku, Saluan, Banggai, Balantak, Buol Toli-toli dan banyak lainnya. Di setiap etnis, ada lebih banyak sub-etnis lain. Sebut saja misalnya etnis Kaili, ada ratusan sub-etnis seperti Kaili Ledo, Kaili Tara, Kaili Rai, Kaili Doi, Kaili Unde, Kaili Da'a dan banyak lainnya.
Dengan demikian, setiap sub-etnis yang memiliki bahasa sendiri dan ada kemiripan satu sama lain. Apakah kasus ini dengan adat istiadatnya, termasuk upacara tradisional sangat beragam dan sangat banyak.Proses untuk membuka ladang baru untuk memanen itu, suku-suku ini memiliki upacara adat sendiri yang disebut upacara Adan Tane. Upacara itu penuh dengan perbuatan suci dan kepercayaan nenek moyang atau leluhur dianggap pengusaha tanah, yaitu Untuk Manuru, yang memberikan kesuburan, kebersihan atau kegagalan.
Dalam kontak dan komunikasi dengan pihak berwenang, diadakanlah upacara adat. Hapri Ika Poigi, salah seorang budayawan di Palu mengatakan kantong masyarakat suku Kaili upacara pembukaan termasuk bidang baru yang disebut Balia Tampilangi, menebang hutan atau upacara ritual Nantahu sekitarnya Nalili bibit padi yang disebut kutukan, Nabalia upacara, upacara menanam benih atau Notuda.
Bukan hanya itu, Hapri Ika Poigi juga menambahkan, saat padi ditanam telah berisi, mereka juga mengadakan upacara yang dikenal sebagai No Unju Bosu, mengadakan upacara yang disebut Nomparaya persembahan, upacara Modindi, Upacara No Ktot memetik padi, upacara pemberian persembahan Nopinji, Nanjalo upacara panen raya dan upacara panen massa Nowunja keselamatan partai, ditembak di sekitar Baruga atau rumah adat masyarakat Kaili.
Belum lagi tentang siklus hidup manusia. Sulawesi Tengah bagi masyarakat secara keseluruhan, selalu ada upacara. Misalnya dimulai sejak sebelum kelahiran, dalam upacara yang hamil, dan adat dan upacara kelahiran, adat dan upacara sebelum dewasa, adat dan upacara perkawinan dan upacara pemakaman. Dengan begitu banyak upacara ritual transisi dari masa kanak-kanak sampai dewasa ini sangat unik.
Dalam sejarah upacara masyarakat Sulawesi Tegah, ketika seorang anak adalah orang dewasa, yaitu sekitar usia 12 tahun ke atas, diadakan upacara Nakeso dan Naloso. Upacara ini yang sangat besar dan dibesarkan karena saat ini putra dan putri telah berakhir masa kecilnya, yang mengharuskan dia untuk mengikuti ritual ini, dan mereka diberi nama Toniasa. Yaitu, Daytona nipaka dibuat atas atau tenang atau didewasakan.
Selama satu bulan sebelum upacara ini, Toniasa ini terkunci di tempat tertutup dan tidak pergi keluar dan menghantam tanah. Dalam kurungan ini mereka harus melaksanakan peraturan dan disiplin yang diajarkan secara tradisional, sedangkan untuk keperluan mereka seperti makan, minum dan lain-lain, harus didahului dengan memukul drum atau suara seruling bambu.
Arifin Sunusi, papan Dewan Kesenian Palu mengatakan, pernah digunakan untuk memenjarakan anak-anak disebut Songi bangunan bertangga bambu, dan ditutupi dengan semacam kain mbesa kulit khusus digunakan untuk upacara adat. Puncak upacara adalah setelah akhir Toniasa latihan Songi, pada malam hari kuku-kuku tangan dan kaki pacar, sementara selama pemberian pacar terakhir Rano memainkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh bersahut-replikasi oleh orang-orang tua dengan iringan bunyi.
Di pagi hari, toniasa dibawa ke sungai untuk mandi dan kemudian diberikan pakaian tradisional seperti orang dewasa. Nakeso upacara selanjutnya dilakukan, yakni menggosok gigi atau pemotongan gigi dengan menggunakan bebatuan khusus dan disaksikan banyak orang. "Biasanya, hal itu dilakukan dalam nakeso atau bantaya Baruga (balai adat) dilakukan oleh kepala adat," katanya.
Selanjudnya toniasa turun dan berparade di sekitar aula atau adat bantaya sudah dihiasi daun kelapa dan bambu kuning. Upacara ini diebut Naloso. Terakhir kepala tertua menombak kerbau diperlukan Toniasa diikuti oleh mereka yang menjalani ritual ini sampai banteng sudah mati. Kemudian kepala kerbau diambil dan diletakkan di depan balai adat, dan duduk di kepala kerbau Toniasa didampingi oleh Toniasa lain, putra atau putri.
"Pada saat itu, anak-anak juga dibentuk dan dinyatakan sebagai orang dewasa. Jika mereka melanggar adat, kepala bukan kepala banteng ini," ujarnya.Semua tradisi masyarakat Sulawesi Tengah, masih terjaga sampai sekarang. Bahlan, untuk mempopulerkannya kepada publik, semua jenis upacara yang selalu diadakan di berbagai media, tidak hanya di desa-desa, tetapi harus panggung-panggung hiburan dan festival.
Back to menu...>>












1 komentar:
Interesting articles.
Poskan Komentar